Nasional, Batuahnews.id – Prevalensi peredaran narkoba di Indonesia turun dari 1,96 persen menjadi 1,73 persen. Hal tersebut diklaim oleh Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Komjen Petres R Golose, bahwa terjadi penurunan prevalensi, hal tersebut dikarenakan sejalan dengan penurunan jumlah pengguna narkotika dari 3,5 juta menjadi 3,3 juta orang.
Hal tersebut dikatakannya dalam kunjungan ke kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), Rabu (15/11/2023) dikutip dari detik.com.
“Saya berterima kasih kepada semua pihak karena sudah bekerja sama untuk menekankan angka peredaran narkotika. Sehingga bisa dilaksanakan program sesuai intruksi Presiden Jokowi,” ucapnya.
Dirinya mengungkapkan, jenis narkoba yang paling banyak pasarnya masuk ke Indonesia adalah metamfetamin atau jenis narkotika golongan satu, yakni sabu.
Selain itu, ia menyebut jenis narkotika ganja juga banyak berasal dari Aceh dan Sumatera Utara (Sumut).
“Saat ini memang tidak ada modus baru. Namun ada satu modus yang sudah kami ungkap yaitu memasukkan heroin melalui karpet,” ungkapnya.
Golose menyebut peredaran narkotika di Indonesia tidak mengenal usia, status, dan strata. Menurutnya mulai dari ASN, pelajar, dosen, dan hakim sudah pernah tertangkap mengedarkan dan menggunakan narkotika.
“Karena memang penyebaran narkotika tidak mengenal pangkat, jabatan, dan tidak kenal anak kecil. Ada yang baru berusia 15 tahun saja sudah jadi pengedar. Ada juga seperti di Jambi, itu yang umur 80 tahun,” bebernya.
Lanjutnya, Golose daerah dengan peredaran narkoba tertunggi saat ini adalah Sumut. Sementara prevalensi peredaran narkotika di NTT masih minim, diangka 0,1 persen.
“Sehingga saya mengapresiasi BNN NTT karena paling rendah angka penyalahgunaan narkotika. Ini adalah hal yang luar biasa,” demikian Golose.
Ibnu Afdaldi

















