Daerah, Batuahnews.id – Sejumlah daerah yang terhubung dengan pipa dari air Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Selagan Kabupaten Mukomuko mengalami mati total. Dimana, perusahaan milik badan usaha milik daerah (BUMD) Kabupaten Mukomuko sudah 4 hari tidak hidup alias mati.
Dengan begitu, sejumlah warga yang berlangganan dengan perusahaan PDAM, mengeluhkan dan mempertanyakan penyebab matinya air PDAM tersebut.
“Sudah masuk 4 hari air mati.Sedangkan, untuk iuran kami rutin membayar sebesar Rp. 148 ribu setiap bulannya dan itu tergantung jumlah air PDAM yang digunakan,” ungkap Habibie warga Desa Ujung Padang, Kecamatan Kota Mukomuko.
Lebih lanjut ia mengungkapkan, dengan kondisi kemarau saat ini masyarakat sangat membutuhkan air bersih dari PDAM. Dikarenakan, masyarakat yang memanfaatkan sumur manual maupun sumur bor, mulai mengeluh karena kondisi sumur mulai mengering.
“PDAM sangat dibutuhkan disaat kondisi kemarau saat ini. Besar harapan kami, kepada PDAM Mukomuko agar segera mengatasi keluhan dari pelanggan PDAM,” harapnya.
Ditempat terpisah, Dirut PDAM Tirta Selagan Mukomuko, Sondri menyampaikan bahwa saat ini beberapa wilayah yang dialiri air dari Tirta Selagan mengalami mati. Hal ini, diakibatkan menyusutnya sungai Selagan akibat musim kemarau ini.
“Kebetulan aliran sungai kita itu dari Kerinci dan kondisi sungai selagan saat ini sudah mulai menyusut, sehingga air yang biasa mengalir sekarang tidak bisa lagi masuk ke bak penampung. Biasanya, ada tekanan air untuk masuk ke bak penampung dan disaat dicoba tekanan air sudah tidak ada,” ungkapnya.
Meski demikian, dengan matinya air PDAM tersebut pihaknya juga telah menginformasikan kepada pelanggan. Dimana, air PDAM tersebut sudah mengalir di 4 Kecamatan yang ada didareah Mukomuko tersebut, yakni Kecamatan Selagan Raya, Teras Terunjam, Kota Mukomuko dan Kecamatan Air Manjuto dengan jumlah total pelanggan sebanyak 3 ribu pelanggan.
“Bahkan sebagian daerah masih ada yang hidup. Seperti, Desa Pondok Kopi. Hal itu disebabkan, pengelolaan inteks langsung dari pihak provinsi yang mengelola Balai Wilayah Sungai. Hanya saja, debit airmya tidak begitu kencang seperti biasanya. Selain itu, kami juga telah menyurati kepada pihak BWS dan juga sudah dilakukan survei ke lokasi. Mungkin dalam waktu dekat dapat teratasi oleh pihak BWS. Apakah nantinya ada pengerukan dengan alat berat atau manual,” demikian Sondri.
Ibnu Afdaldi

















