Nasional, Batuahnews.id – Gempa berkekuatan magnitudo 6,3 mengguncang Provinsi Bengkulu, pada Jumat dini hari (23/5).
Berdasarkan data sementara, sebanyak 146 rumah warga rusak akibat gempa bumi ini.
Gubernur Bengkulu Helmi Hasan mengatakan dalam kejadian ini, pihaknya akan memperbaiki bahkan membangun ulang rumah warga yang rusak akibat gempa.
“Rumah yang rusak parah akan kami robohkan, pemprov akan bangun kembali yang baru, yang rusak ringan akan diperbaiki. Tadi juga sudah kami sampaikan uang duka ke (korban gempa) yang rumahnya rusak berat maupun rusak ringan,” katanya.
Lanjut Helmi, selain rusaknya rumah akibat gempa ini, juga sejumlah warga di Kota Bengkulu mengalami luka-luka, dan kabar baiknya tidak ada korban jiwa akibat gempa tersebut.
“Meninggal dunia tidak ada, ada luka-luka. Jadi, kami masih menunggu laporan-laporan, termasuk laporan warga kota dan sekitarnya terkait kerusakan rumah mereka,” ujarnya.
Diketahui, jauh sebelumnya sudah diketahui jika Indonesia merupakan wilayah yang rawan gempa bahkan ada potensi megathrust atau gempa dengan kekuatan besar.
Diantara wilayah yang diprediksikan bisa terjadi megathrust yakni di zona megathrust Selat Sunda dan Mentawai-Siberut.
Beberapa waktu lalu Kepala Pusat Gempa bumi dan Tsunami BMKG, Daryono menindaklanjuti terkait informasi mengenai potensi gempa di zona Megathrust Selat Sunda dan Mentawai-Siberut.
Dikatakan Daryono, informasi tersebut bukanlah hal baru, sudah lama, bahkan sudah ada sejak sebelum terjadi Gempa dan Tsunami Aceh 2004.
Munculnya kembali pembahasan potensi gempa di zona megathrust sekarang bukanlah bentuk peringatan dini (warning) yang seolah-olah dalam waktu dekat akan segera terjadi gempa besar. Tidak demikian.
“Kita hanya mengingatkan kembali keberadaan Zona Megathrust Selat Sunda dan Mentawai-Siberut sebagai sebuah potensi yang diduga oleh para ahli sebagai zona kekosongan gempa besar (seismic gap) yang sudah berlangsung selama ratusan tahun. Seismic gap ini memang harus kita waspadai karena dapat melepaskan energi gempa signifikan yang dapat terjadi sewaktu-waktu,” pungkas Kepala Pusat Gempabumi dan Tsunami BMKG, Daryono.
Andika Dwi Pradipta

















