Daerah, Batuahnews.id – Kepolisian Resor Mukomuko melaksanakan Operasi Zebra Nala 2025 yang tengah berlangsung, mulai tanggal 17 hingga 30 November 2025.
Operasi tahun ini kembali diarahkan untuk menciptakan kondisi keamanan, keselamatan, ketertiban, dan kelancaran lalu lintas (Kamseltibcarlantas), terutama menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru.
Kasat Lantas Polres Mukomuko, AKP Rully Zuldh Fermana, S.I.K., M.Si., menjelaskan bahwa pola operasi tahun ini pada prinsipnya tidak jauh berbeda dengan tahun sebelumnya, di mana tiga satuan tugas tetap menjadi pondasi utama pelaksanaan kegiatan, yakni Satgas Preemtif, Preventif, dan Represif.
“Operasi Zebra Nala 2025 dilakukan seperti tahun sebelumnya. Kita tetap menjalankan tiga satgas, yaitu preemtif, preventif, dan represif,” ujarnya.
Namun demikian, ia menekankan bahwa dua satgas awal preemtif dan preventif menjadi prioritas untuk mengedepankan pendekatan persuasif kepada masyarakat.
“Operasi tahun ini tetap mengutamakan langkah preventif dan preemtif. Tapi bukan berarti kegiatan represif seperti penilangan ditiadakan,” kata AKP Rully.
Melalui operasi ini, kepolisian akan menyasar berbagai bentuk potensi gangguan, mulai dari ambang gangguan, gangguan nyata, hingga tindakan-tindakan yang dapat memicu kemacetan, pelanggaran hukum, maupun kecelakaan lalu lintas. Fokus utama bukan semata tindakan hukum, tetapi upaya menyeluruh untuk menciptakan kondisi jalan yang lebih aman bagi warga.
Dalam kesempatan yang sama, Satlantas Polres Mukomuko turut memaparkan perkembangan data lalu lintas dalam dua tahun terakhir. Meskipun jumlah kecelakaan secara keseluruhan turun signifikan sebesar 76 persen, tingkat fatalitas justru memperlihatkan peningkatan yang mengkhawatirkan.
Data menunjukkan:
•Tilang naik 32,6 persen
•Teguran turun 46,7 persen
•Korban meninggal naik 60 persen
•Korban luka berat naik 145,5 persen
•Korban luka ringan naik 218,2 persen
Menurut AKP Rully, angka-angka tersebut menjadi alarm bagi kepolisian bahwa pelanggaran di jalan raya kini berdampak langsung pada keselamatan pengguna jalan.
“Kenaikan tajam pada korban luka, baik berat maupun ringan, menunjukkan bahwa pelanggaran yang terjadi bukan hanya soal administrasi, tetapi sudah menyangkut keselamatan masyarakat,” tegasnya.
Ia menyebut, peningkatan fatalitas ini menjadi dasar bagi polisi untuk memperkuat pola operasi, termasuk memberi perhatian lebih pada potensi pelanggaran yang dapat menyebabkan kecelakaan berakibat fatal.
Selama 14 hari pelaksanaan, personel Satlantas turun di sejumlah titik rawan kecelakaan dan kemacetan. Mereka akan lebih banyak melakukan tindakan preventif seperti penyuluhan kepada pengendara, penataan lalu lintas di jam sibuk, serta pengamanan aktivitas masyarakat.
Namun di sisi lain, penindakan tetap akan dilakukan apabila ditemukan pelanggaran yang membahayakan keselamatan. Langkah represif difokuskan pada pelanggaran prioritas seperti tidak menggunakan helm, melawan arus, berkendara melebihi batas kecepatan, penggunaan knalpot tidak sesuai aturan, hingga kelengkapan dokumen kendaraan.
AKP Rully menegaskan bahwa tujuan utama operasi bukan sekadar melakukan penilangan.
“Inti operasi ini adalah pencegahan. Kami ingin masyarakat semakin patuh dan merasa aman saat berkendara,” ujarnya.
Operasi Zebra Nala tahun ini juga menjadi pintu masuk menuju Operasi Lilin yang akan digelar pada Desember mendatang, di mana intensitas pergerakan masyarakat biasanya meningkat menjelang libur akhir tahun.
Andika Dwi Pradipta

















