Daerah, Batuahnews.id – Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu, belum berhasil menangkap harimau sumatera yang memangsa warga Kabupaten Mukomuko.
“Selama 12 hari ini, harimau tersebut belum masuk ke kandang jebakan yang kami pasang di lahan perkebunan,” kata Kepala Resor Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kabupaten Mukomuko, Bengkulu, Damin.
Ia mengatakan, BKSDA Bengkulu telah memasang 3 perangkap dan 5 kamera pemantau.
Akan tetapi sampai saat ini, belum adanya harimau tersebut memasuki perangkap ataupun tertangkap kamera yang telah dipasang.
“Hingga saat ini belum ada harimau yang masuk di tiga perangkap,” ungkap Damin.
Diketahui untuk aktivitas harimau berdasarkan hasil dari kamera pemantau, di tanggal 9 dan 10 Januari 2025 sebelum sampai ke Desa Setia Budi.
Sementara sampai saat ini, belum ada lagi aktivitas harimau berdasarkan hasil kamera pemantau yang sudah dipasang di tiga Desa.
“Aktivitas harimau yang terpantau dari kamera di Mekar jaya itu di tanggal 9 dan 10 Januari 2025, sebelum ke Desa Setia Budi,” tutur Damin.
Dari hasil pemantaun itu, harimau yang terlihat berjenis kelamin laki-laki, dan hanya sendirian.
Kemudian, untuk usia harimau belum bisa dipastikan namun yang jelas harimau itu sudah dikategorikan dewasa.
“Kalau dari hasil kamera pemantau harimau itu berjenis kelamin laki-laki hanya sendiri dan dikategorikan dewas,” jelas Damin.
Adapun harinya tersebut mulai dari Desa Tunggal Jaya, kemudian ke Mekar Jaya, terus ke jembatan kelenteng, menyebrang ke pustu pondok kopi, lalu ke pinggir sungai selagan.
Harimau tersebut melewati pinggiran sungai selagan melintasi SP 10 dan masuk ke Desa Setia Budi, lalu ke Danau Lebar.
“Harimau itu sudah merasa diburu, saat melintas dari Sungai Selagai di Pondok Kopi, kita tak menyalahkan masyarakat karena cemas,” kata Damin.
Damin menjelaskan, berdasarkan titik perjumpaan terakhir yakni jejak harimau itu, harimau berada di sekitar pos hambalat atau berada di antara perkebunan sawit PT Agro Muko dan Desa Setia Budi.
Meskipun beberapa hari ini, pihaknya mendapatkan laporan dari beberapa desa adanya jejak harimau, ternyata informasi yang diterima salah, karena warga mengira jejak sapi atau anjing dikira jejak harimau.
“Ada beberapa informasi yang kami terima berupa jejak harimau dari masyarakat dan sudah kami lakukan pengecekan ternyata informasi yang kami salah, tak bisa menyalahkan masyarakat mungkin masyarakat dalam keadaan ceman,” pungkas Damin.
Andika Dwi Pradipta

















