Daerah, Batuah-news.id – Upaya memperkuat kesiapsiagaan masyarakat terhadap bencana di Kabupaten Mukomuko masih menghadapi tantangan.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat mencatat, jumlah desa yang telah berstatus Desa Tangguh Bencana (Destana) masih jauh dari kebutuhan ideal.
Dari total 148 desa dan 3 kelurahan yang tersebar di 15 kecamatan, baru 13 desa yang mengantongi status tersebut.
Kondisi ini dinilai belum sebanding dengan luas wilayah serta potensi bencana yang dimiliki daerah tersebut.
Kepala Pelaksana BPBD Mukomuko, Ruri Irwandi, mengatakan, rencana pengembangan program Destana pada 2026 belum dapat direalisasikan. Hal itu disebabkan keterbatasan anggaran sebagai dampak kebijakan efisiensi.
Menurutnya, pembentukan Destana bukan proses yang bisa dilakukan secara cepat. Tahapannya mencakup sosialisasi, pelatihan kebencanaan bagi aparatur dan warga, hingga penyusunan rencana kontinjensi di tingkat desa.
“Seluruh proses itu membutuhkan dukungan dana yang memadai. Tanpa itu, program tidak bisa dijalankan secara utuh,” ujarnya.
Ia menambahkan, tanpa alokasi anggaran yang jelas, percepatan penambahan desa tangguh bencana akan sulit tercapai.
Padahal, dengan total 151 wilayah administratif desa dan kelurahan, peningkatan kesiapsiagaan masyarakat dinilai mendesak untuk dilakukan secara berkelanjutan.
Ruri menegaskan, semakin banyak desa yang memiliki kesiapan menghadapi bencana, maka risiko yang ditimbulkan dapat ditekan.
“Target kita jelas, memperkuat ketahanan masyarakat. Tapi itu harus ditopang anggaran yang cukup,” ungkapnya.
Meski program perluasan Destana belum berjalan, BPBD Mukomuko memastikan tetap melakukan langkah edukasi dan koordinasi kebencanaan sesuai kemampuan yang tersedia.
Upaya tersebut diharapkan tetap menjaga kesadaran masyarakat terhadap potensi risiko bencana di daerahnya.
Andika Dwi Pradipta

















