“Salah satu ciri masa peralihan musim adalah pola hujan yang biasa terjadi pada sore hingga menjelang malam hari dengan didahului oleh adanya udara hangat dan terik pada pagi hingga siang hari. Hal ini terjadi karena radiasi matahari yang diterima pada pagi hingga siang hari cukup besar dan memicu proses konveksi (pengangkatan massa udara) dari permukaan bumi ke atmosfer sehingga memicu terbentuknya awan,” lanjutnya.
Masih dijelaskannya, bahwa karakteristik hujan pada periode ini cendreung tidak merata dengan intensitas sedang hingga lebat dalam durasi singkat. Melihat apabila kondisi atmosfer menjadi labil/tidak stabil maka potensi pembentukan awan konvektif seperti awan Cumulonimbus (CB) bisa akan meningkat.
“Awan CB inilah yang erat kaitannya dengan potensi kilat/petir, angin kencang, puting beliung, bahdak hujan es. Bentuknya seperti bunga kol, warnanya ke abu-abuan dengan tepian yang jelas,” paparnya.
Dwikorita menyebut bahwa curah hujan lebat menjadi salah satu pemicu hidrometeorologi, seperti banjir bandnag dan tanah longsor. Karena masyarakat yang tinggal didaerah perbukitan yang rawan longsor, pihaknya menghimbau untuk waspada dan berhati – hati.
Kepala Deputi Bidang Meteorologi BMKG Guswanto mengatakan bahwa berdasarkan monitoring yang dilakukan BMKG, terdapat beberapa fenomena atmosfer yang terpantau masih cukup signifikan dan dapat memicu peningkatan curah hujan yang disertai kilat/angin kencang.
Kemudian yang pertama, aktivitas monsun asia yang masih dominan. Kedua aktivitas Madden HJullian Oscillation (MJO) pada kuadran 3 Samudra Hindia Bagian Timur yang akan diprediksi akan memasuki wilayah pesisir barat Indonesia pada beberapa pekan kedepan.
Kedua, adanya aktivitas gelombang atmosfer di sekitar Indonesia bagian Selatan, Tengah dan Timur. Keempat terbentuknya pola belokan dan pertemuan angin yang memanjang di Indonesia Baguah Tengah dan Selatan.
Sumber : BMKG
Ibnu Afdaldi

















