Daerah, Batuah-news.id – Ketersediaan tenaga pengamat hama dan penyakit tanaman di Kabupaten Mukomuko hingga kini masih menjadi persoalan.
Daerah tersebut belum memiliki petugas khusus yang bertugas memantau perkembangan organisme pengganggu tanaman (OPT) di lapangan.
Kondisi tersebut dinilai dapat menghambat upaya pengendalian serangan hama, terutama pada komoditas utama seperti padi dan jagung yang menjadi andalan petani di wilayah tersebut.
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Mukomuko, Hari Mustaman, mengatakan kebutuhan tenaga pengamat hama dan penyakit tanaman saat ini sudah cukup mendesak. Namun hingga kini, formasi untuk posisi tersebut belum tersedia.
Menurut dia, keberadaan petugas pengamat sangat diperlukan untuk melakukan pemantauan kondisi tanaman secara rutin di berbagai sentra pertanian.
Tanpa tenaga khusus, proses deteksi dini terhadap potensi serangan hama dan penyakit menjadi kurang maksimal.
“Selama ini pemantauan masih dilakukan secara terbatas oleh petugas yang ada. Idealnya ada tenaga yang secara khusus bertugas melakukan identifikasi serta melaporkan kondisi tanaman di lapangan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, pihaknya telah mengusulkan penambahan tenaga pengamat kepada Pemerintah Kabupaten Mukomuko maupun pemerintah pusat.
Dalam usulan tersebut, setidaknya dibutuhkan sekitar tujuh orang petugas agar pengawasan terhadap lahan pertanian dapat menjangkau seluruh wilayah sentra produksi.
Keterbatasan sumber daya manusia ini juga berdampak pada lambatnya penanganan ketika terjadi serangan hama. Petani kerap terlambat memperoleh rekomendasi penanganan karena minimnya laporan dan analisis yang berasal dari lapangan.
Selain itu, tidak adanya tenaga pengamat juga menyulitkan pemerintah daerah dalam menyusun data yang akurat mengenai penyebaran hama dan penyakit tanaman.
Padahal, data tersebut menjadi dasar penting dalam menentukan kebijakan pengendalian serta langkah antisipasi di sektor pertanian.
Pemerintah daerah berharap usulan penambahan tenaga tersebut dapat segera mendapat perhatian. Pasalnya, sektor pertanian masih menjadi salah satu tulang punggung perekonomian masyarakat di Kabupaten Mukomuko.
“Harapan kami ini bisa menjadi perhatian bersama, karena dampaknya langsung dirasakan oleh petani serta berpengaruh pada produksi pangan daerah,” ungkap Hari Mustaman.
Andika Dwi Pradipta

















