Nasional, Batuah-news.id – Republik Islam Iran kini memasuki masa paling genting dalam sejarah politik modernnya setelah wafatnya Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei pada Sabtu dini hari (28/2/2026).
Serangan gabungan yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel menewaskan sosok yang telah memimpin Iran selama lebih dari tiga dekade itu.
Kematian Khamenei seketika memunculkan pertanyaan besar: siapa yang akan menjadi penerusnya?
Untuk sementara waktu, kepemimpinan tertinggi negara dijalankan oleh Presiden Iran, Ketua Mahkamah Agung, dan satu anggota Dewan Wali, sebagaimana diatur dalam konstitusi.
Ketiganya bertugas menjaga kesinambungan pemerintahan sampai pemimpin baru ditetapkan.
Menurut laporan kantor berita IRNA, pembentukan kepemimpinan sementara ini akan berlangsung hingga Majelis Pakar lembaga beranggotakan 88 ulama senior menentukan sosok pengganti tetap.
Majelis tersebut memiliki mandat konstitusional untuk memilih serta mengawasi Pemimpin Tertinggi, posisi yang berada di atas seluruh lembaga pemerintahan Iran.
Berbeda dengan jabatan presiden yang dipilih langsung oleh rakyat, Pemimpin Tertinggi memiliki otoritas tertinggi dalam hal politik, militer, hingga keagamaan.
Figur ini dianggap sebagai pelindung ideologi Revolusi Islam dan pengarah utama kebijakan luar negeri serta keamanan nasional.
Kini, sorotan publik dunia tertuju pada siapa yang akan mengisi kekosongan itu. Menurut pemberitaan Al Jazeera, Majelis Pakar dijadwalkan segera bersidang untuk melakukan pembahasan intensif terkait kandidat yang dianggap layak menduduki posisi tersebut.
Dua skenario tengah mengemuka. Pertama, diyakini Khamenei sebelum wafat telah menunjuk empat nama yang dinilai layak menjadi penerus.
Skenario kedua, jika belum ada keputusan, maka kepemimpinan negara akan dijalankan oleh dewan transisi beranggotakan empat orang hingga pemimpin baru resmi terpilih.
Proses pemilihan ini dijalankan dengan sangat hati-hati dan tertutup. Seluruh calon akan diseleksi oleh Dewan Penjaga, lembaga yang mayoritas anggotanya dipilih langsung atau tidak langsung oleh Pemimpin Tertinggi.
Mekanisme tersebut memastikan bahwa hanya tokoh dengan kesetiaan tinggi terhadap sistem Republik Islam yang bisa melangkah ke tahap akhir.
Sementara itu, Dewan Hubungan Luar Negeri mengidentifikasi beberapa ulama berpengaruh yang dinilai berpotensi besar menggantikan Khamenei.
Berikut beberapa nama kandidat yang mencuat:
1.Alireza Arafi
Tokoh ulama senior yang kini memimpin jaringan seminari nasional Iran. Ia duduk di Dewan Penjaga dan Majelis Pakar, dikenal sebagai sosok intelektual yang menguasai bahasa Arab dan Inggris.
Arafi juga aktif menulis dengan lebih dari dua lusin karya ilmiah yang telah diterbitkan.
2.Hojjat ol Eslam Mohsen Qomi
Penasihat senior di kantor Khamenei ini memiliki kedekatan personal dengan mendiang Pemimpin Tertinggi. Loyalitasnya terhadap garis kebijakan revolusioner membuatnya disebut sebagai “orang dalam” yang berpeluang kuat.
3.Ayatollah Gholam Hossein Mohseni Ejei
Saat ini menjabat sebagai Kepala Kehakiman Iran. Karier panjangnya di sektor keamanan dan birokrasi menjadikannya figur yang dianggap mampu menjaga stabilitas politik, terutama di masa peralihan yang tidak pasti.
4.Ayatollah Hashem Hosseini Bushehri
Pemimpin salat Jumat di kota suci Qom sekaligus anggota Majelis Pakar.
Meski memiliki kedekatan dengan Khamenei, profilnya relatif rendah di publik dan tidak dikenal memiliki hubungan erat dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), faktor yang bisa menjadi kelemahan maupun keunggulan tersendiri.
Andika Dwi Pradipta

















