P. Ardianta R.M. – Mahasiswa Universitas Siber Asia
Pada awal Juli 2026, Jagad maya di hebohkan oleh video singkat yang menampikan seorang pengemudi mobil di kawasan Sunter, Jakarta Utara, menghentikan kendaraan nya, lalu merusak spion dan wiper sebuah mobil mini cooper karena dia merasa mobil nya diserempet mini copper tersebut.
Video tersebut viral dalam hitungan jam, pelalu perusakan ditangkap polisi dua hari kemudian, kerugian ditaksir mencapai 50 juta rupiah. Namun ironinya fakta mengejutkan terjadi setelah hasil penyelidikan keluar. Dua kendaraan tersebut sama sekali tidak pernah bersentuhan. Amarah yang dialami pelaku ternyata muncul dari sesuatu yang tidak pernah terjadi.
Kejadian di Sunter bukan kasus satu-satunya. Beberapa bulan terakhir, peristiwa seperti ini terus terjadi, dari pemotor yang mengamuk dan merusak mobil pemudik di Ciamis, hingga perselisihan kecil di jalan raya daerah Jagakarsa yang berujung penganiayaan. Pola nya hampir sama, kesalahpahaman, emosi yang tak terkontrol, tindakan yang akhirnya disesali, permintaan maaf yang terlambat, karena videonya terlanjul viral.
Dari sudut pandang ilmu tentang emosi, kejadian di Sunter dapat dijelaskan secara mudah. Otak Manusia memiliki bagian yang disebut Amigdala, bagian dari otak ini bertugas mengenali ancaman fisik maupun psikologis. Namun, sinyal peringatan dari Amigdala bergerak lebih cepat dibading Korteks, bagian dari otak yang bertanggungjawab berpikir secara rasional.
Sehingga reaksi marah lebih dulu muncul, padahal belum sempat diverifikasi oleh Kortes, apakah ancaman itu beneran nyata atau hanya persepsi. Pengemudi di Sunter kemungkinan besar bereaksi seperti penjelasan diatas, otaknya meyakini terjadi serempetan, bukan memverifikasi kejadian yang sebenernya terjadi di jalan. Ketika amigdala “menang”, tubuh melepaskan hormone adrenaline yang mebuat kemarahan bisa bertahan lama, bahkan menurunkan ambang toleransi terhadap kejadian berikutnya.
Dari sudut pandang Estetika Humanisme, marah itu sendiri sebenarnya bukan suatu masalah. Marah adalah emosi normal sebagai bentuk pertahanan diri paling purba yang dimilki semua makhluk hidup. Yang membedakan manusia dengan makhluk hidup lainya bukan kemapuan untuk tidak marah, melaikan kemampuan untuk mengelola amarah sebelum menjadi tindakan yang merugikan. Di titik inilah pengemudi Sunter dan pelaku road rage lain kehilangan sifat manusiawi nya.
Anger management dalam pengertian sebenernya bukan mencegah atau menaha amarah, melainkan mengendalikan dan memberi ruang bagi Korteks untuk bekerja sebelum Amigdala mengambil alih otak dan tubuh.
Ada satu hal yang luput dari perhatian publik dari setiap video road rage yang viral, kita sibuk menghakimi pelaku, dari pada melihat penyebab kejadian ini terus berulang.
Psikolog dari Universitas Indonesia berpendapat bahwa perilaku semacam ini berkaitan erat dengan sejauh mana seseorang mampu meredam emosinya sendiri dan memahami perasaan orang lain, dua kemampuan yang tidak pernah diajarkan secara serius. Kita mewajibkan setiap pengendara memiliki SIM sebagai bukti kelayakan mengemudi kendaraan di jalanan, tapi tidak mewajibkan seseorang belajar mengendalikan amarahnya sBat di jalan raya. Kemacetan, tekanan hidup, dan budaya terburu-buru di jalanan Kota besar menjadi ladang subur ledakan emosi ini terjadi yang sebenarnya bisa dicegah.
Materi Anger Management yang diajarkan pada mata kuliah ini sebenarnya telah memberikan langkah-langkah untuk mengendalikan amarah tersebut, seperti : mundur sejenak dari sumber amarah, menghitung dari satu sampai sepuluh sebelum bereaksi, atau sekadar berjalan kaki untuk mendinginkan pikiran sebelum berkomunikasi. Terdengar sepele dan sederhana, tapi tindakan ini dapat mencegah amarah berubah menjadi tindakan merugikan. Andai pengemudi di Sunter memberi dirinya waktu untuk bernafas satu atau dua tarikan nafas sebelum turun dari mobil, mungkin ceritanya akan sangat berbeda.
Road rage yang terjadi di Sunter ataupun tempat lainya semestinya jadi pengingat bahwa literasi bukan hanya literasi digital atau literasi finasial, literasi emosi juga jadi kebutuhan mendesak bagi kita hari ini. Kita bisa mahir mengoperasikan kendaaraan atau gawai tercanggih sekalipun, tapi tanpa kemampuan mengenali tanda-tanda kemarahan pada diri sendiri, semua kecanggihan itu bisa berubah menjadi senjata yang melukai orang lain, bahkan untuk sesuatu yang pada akhirnya tidak pernah benar-benar terjadi
Red














