Daerah, Batuahnews.id – Menjadi sorotan publik kabar keretakan internal DPD II partai Golkar Mukomuko, pada saat penetapan Zamhari sebagai ketua definitif 2024-2029 lalu.
Dari 5 anggota DPRD Mukomuko dari partai beringin ini, 4 diantanya tidak menghadiri paripurna pengumuman dan penetapan unsur pimpinan dari partai tersebut.
Daftar Anggota DPRD Mukomuko dari Golkar Tidak Hadir:
- Karto (Dapil I)
- Hanasrum (Dapil II)
- dr Ferdy Jureli (Dapil III)
- Hendra Gunawan (Dapil III)
Sontak hal ini menjadi pertanyaan serta menimbulakan banyak asumsi dan opini ditengah masyarakat. Ada yang mengatakan karena gagalnya Karto menduduku ketua dewan.
” Inilah bentuk ketidak dewasaan mereka serta tidak paruhnya pada kebijakan partai. Artinya masih mementingkan ego dan kepentingan masing-masing,” ungkap narasumber yang enggan disebutkan namanya.
Gesekan internal partai Golkar ini ternyata sudah terjadi sejak perebutan kusri pimpinan dewan beberapa waktu lalu di DPP Golkar. Karena nama Zamhari sebelumnya tidak dimasukkan pada pengajuan.
Karena beberapa alasan, terutama pendidikan, dan Zamhari juga diisukan masih tercatat di sipol partai Gerindara.
Saat pleno dilaksanakan ditingkat DPD I Provinsi pun hanya ada 3 nama yang diusulkan dari DPD II Mukomuko untuk ditindak lanjuti ke tingkat DPP.
” Wajar mereka merasa kecewa, pertama Zamhari ini tidak melalui usulan dari ranting bawah. Tiba-tiba Surat Keputusan DPP mengeluarkan nama Zamhari. Harusnya para kader patuhi kebijakan yang sudah jadi keputusan DPP,” lanjutnya.
Jika ada kader Golkar yang tidak terima, harusnya ajukan keberatan ke DPD I, untuk diteruskan ke DPP. Jangan malah mempersulit tahapan penetapan ketua ini.
Mengingat agenda besar persiapan APBD 2025 sudah mulai saat ini. Harapan masyarakat pihak legislatif bisa mendahulukan kepentingan daerah ketimbang pribadi atau kelompok.
” Ingat, kalian itu bakal bertemu setiap harinya, bakal punya kepentingan satu sama lainnya kedepan. Jangan karena masalah internal anggota yang lain terseret dalam konflik ini. Mau jadi apa lembaga terhormat itu kalau sudah terpecah belah,” tutupnya.
Andika Dwi Pradipta

















