Daerah, Batuahnews.id – Setelah hampir setengah tahun berjibaku dengan serangan penyakit Ngorok pada hewan ternak di sejumlah wilayah, kondisi di Kabupaten Mukomuko kini berangsur membaik.
Dinas Pertanian Kabupaten Mukomuko melalui Bidang Peternakan memastikan bahwa sejak kasus terakhir muncul di Kecamatan Air Dikit, tidak ada lagi laporan baru yang masuk.
Kasus Ngorok pertama kali terdeteksi pada akhir April, bermula di Kecamatan Teramang Jaya dan Ipuh. Wabah kemudian bergerak ke wilayah lain. Pada pertengahan Juli, penyakit ini kembali muncul di Kecamatan Kota Mukomuko sebelum akhirnya berlanjut ke Kecamatan Air Dikit.
Rangkaian penularan tersebut sempat menimbulkan kekhawatiran peternak karena penyebarannya yang cepat dan sifat penyakit yang agresif.
Kabid Peternakan, Diana Nurwahyuni, menjelaskan bahwa pihaknya sejak awal langsung melakukan langkah pengendalian. Hewan yang sakit diberi pengobatan intensif, sementara hewan yang masih sehat diproteksi melalui vaksinasi.
“Upaya pengobatan dan vaksinasi berjalan maksimal. Alhamdulillah vaksinasi ini membawa hasil, sehingga tidak muncul lagi tambahan kasus setelah penanganan dilakukan,” ujarnya.
Selama periode penanganan, Puskeswan di berbagai kecamatan telah menangani sekitar dua ribu kasus. Jumlah tersebut merupakan akumulasi dari penanganan di Kecamatan Ipuh, Sungai Rumbai, Teramang Jaya, Selagan Raya, Air Dikit, hingga Kota Mukomuko.
Dari seluruh wilayah terdampak, Kecamatan Teramang Jaya tercatat memiliki tingkat kematian ternak paling tinggi, menjadikannya fokus utama dalam proses pengendalian. Di kawasan tersebut, petugas harus bekerja ekstra karena banyaknya hewan yang terinfeksi dalam waktu bersamaan.
Selain pengobatan dan vaksinasi, edukasi kepada masyarakat juga gencar dilakukan. Penyuluh dan tenaga kesehatan hewan turun langsung memberikan pemahaman kepada peternak mengenai gejala penyakit, cara pencegahan, hingga langkah cepat yang harus dilakukan jika ternak menunjukkan tanda-tanda Ngorok.
“Kami tidak hanya mengobati yang sakit. Setiap turun ke lapangan, kami juga memberikan edukasi agar peternak lebih waspada dan mampu mengambil tindakan cepat. Pendekatan ini cukup efektif dalam memutus rantai penyebaran,” ungkap Diana.
Dengan melandainya kasus dan tidak adanya temuan baru dalam beberapa waktu terakhir, Dinas Peternakan berharap kondisi ini dapat terus terjaga. Peternak diimbau tetap memperhatikan kebersihan kandang, pola pakan, dan rutin melapor jika muncul gejala yang mencurigakan agar penanganan bisa dilakukan sejak dini.
Andika Dwi Pradipta

















