Daerah, Batuahnews.id – Wabah penyakit Septicemia Epizootica (SE) atau yang akrab disebut masyarakat ngorok kembali menjadi ancaman serius bagi peternakan kerbau di Kabupaten Mukomuko.
Sejak beberapa bulan terakhir, ribuan ternak dilaporkan terinfeksi, bahkan sebagian besar berakhir mati mendadak. Situasi ini membuat Dinas Pertanian setempat bergerak cepat dengan mengajukan tambahan anggaran sebesar Rp60 juta melalui APBD Perubahan 2025.
Anggaran tersebut tidak hanya untuk pembelian obat, tetapi juga vaksin sebagai langkah pencegahan. SE dikenal sebagai penyakit menular yang sangat cepat menyebar.
Dalam kondisi cuaca lembab dan sanitasi lingkungan yang buruk, bakteri penyebab penyakit bisa berkembang biak dengan cepat, lalu menyerang sistem pernapasan kerbau. Jika tidak segera ditangani, dalam hitungan jam hewan bisa mati.
Menurut data Dinas Pertanian, sejak April lalu sudah lebih dari 3.000 ekor kerbau terjangkit penyakit ini. Daerah terdampak meluas dari Kecamatan Ipuh hingga XIV Koto, bahkan mencapai wilayah Kota Mukomuko.
Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran karena sebagian besar masyarakat setempat masih bergantung pada usaha peternakan sebagai sumber penghidupan.
Kepala Dinas Pertanian Mukomuko, Fitriani Ilyas, menjelaskan bahwa pemerintah pusat sebelumnya telah menyalurkan bantuan vaksin. Sayangnya, jumlah yang tersedia tidak sebanding dengan banyaknya kasus di lapangan.
“Stok vaksin yang ada tidak cukup, sedangkan kasus terus bertambah. Karena itu kami mengusulkan tambahan anggaran agar bisa melakukan pengadaan vaksin dan obat secara mandiri,” terang Fitriani.
Ia menambahkan, keberadaan vaksin dan obat-obatan menjadi kebutuhan mendesak untuk memperlambat laju penularan SE. Dengan begitu, penanganan dapat dilakukan lebih efektif, sementara peternak tidak semakin dirugikan.
“Harapan kami, dengan tambahan anggaran ini, penyakit ngorok bisa dikendalikan lebih cepat. Ternak tetap terjaga kesehatannya, dan ekonomi masyarakat peternak pun terlindungi,” pungkasnya.
Andika Dwi Pradipta

















