Daerah, Batuahnews.id – Menjelang akhir tahun 2025, harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di Kabupaten Mukomuko, Provinsi Bengkulu, tercatat berada pada kisaran yang relatif stabil.
Berdasarkan data terbaru yang dihimpun Dinas Pertanian Kabupaten Mukomuko, harga TBS di sejumlah perusahaan pengolahan sawit berkisar antara Rp2.860 hingga Rp3.005 per kilogram.
Kestabilan harga ini dinilai memberi napas lega bagi para petani sawit di daerah tersebut, terutama setelah beberapa pekan sebelumnya harga sempat berfluktuasi akibat dinamika pasar dan kondisi cuaca yang memengaruhi hasil panen.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Mukomuko, Hari Mustaman, SP, mengatakan bahwa meski tidak terjadi lonjakan harga yang signifikan, kondisi ini mencerminkan pasar sawit yang cenderung stabil di penghujung tahun.
“Harga TBS di Mukomuko minggu ini memang tidak mengalami perubahan besar. Ada beberapa perusahaan yang menaikkan harga sekitar tiga puluh rupiah per kilogram, namun sebagian besar masih mempertahankan harga pekan sebelumnya. Ini menandakan permintaan pasar masih cukup kuat dan kondisi distribusi berjalan baik,” ujar Hari Mustaman.
Berikut daftar harga TBS sawit di sejumlah perusahaan yang beroperasi di Kabupaten Mukomuko pada pekan ini:
PT. SAPTA: Rp2.860/Kg (tetap)
PT. USM: Rp2.890/Kg (tetap)
PT. KSM: Rp2.920/Kg (+30)
PT. SAP: Rp2.920/Kg (tetap)
PT. SSS: Tutup sementara
PT. MMIL: Rp2.950/Kg (+30)
PT. KAS: Rp2.900/Kg (+30)
PT. MPRA: Rp3.005/Kg (tertinggi)
PT. DDP: Rp2.970/Kg (+30)
PT. GSS: Rp2.970/Kg (+30)
PT. BMK: Rp2.930/Kg (tetap)
Hari menjelaskan, pemantauan harga TBS dilakukan secara rutin setiap minggu oleh tim dari Dinas Pertanian bekerja sama dengan pihak perusahaan dan perwakilan petani. Penetapan harga mengacu pada kualitas buah, kadar minyak, serta hasil perhitungan bersama yang disepakati antara petani dan perusahaan.
“Kami terus melakukan pemantauan agar harga yang diterima petani sesuai dengan standar dan tetap menguntungkan. Prinsip keadilan dalam kemitraan antara perusahaan dan petani menjadi perhatian utama kami,” tutur Hari.
Ia menambahkan, faktor-faktor eksternal seperti harga minyak sawit mentah (CPO) di pasar global, biaya transportasi, dan cuaca juga turut memengaruhi pergerakan harga TBS di tingkat lokal. Namun, menjelang akhir tahun ini, kondisi pasar sawit di Mukomuko dinilai relatif kondusif.
“Kami akan terus menjaga agar mekanisme harga tetap transparan dan berpihak kepada petani. Jika semua pihak bersinergi, sektor sawit Mukomuko bisa semakin maju dan berdaya saing,” ungkapnya.
Andika Dwi Pradipta

















