Pasang-Iklan-Disini-Batuah-Top-dan-Bottom-Banner-1
previous arrow
next arrow

Guru Gusdur Ini Ternyata Berdarah Mukomuko, Pernah Dicabut Kewarganegaraannya Zaman Orde Baru

Edukasi, Batuahnews.id – Namanya Ibrahim Isa, pria kelahiran 20 Agustus 1930 di Maeester Cornelis (Jatinegara) Jakarta Timur ini, merupakan guru presiden ke-4 Republik Indonesia Abdurahman Wahid (Gusdur) saat mengajar di sekolah perguruan Kebaktian Rakyat Indonesia Sulawesi (KRIS) semasa Indonesia dijajah Jepang.

Ternyata, Ibrahim Isa merupakan keturunan Mukomuko, Bengkulu. Ibunya bernama Nila Utama asli Mukomuko. Sedangkan Ayahnya bernama Isa, bergelar Datuk Sinaro Panjang yang berdarah Minangkabau.

Perjalanan Hidup Datuk Ibrahim Isa

Pria berambut putih itu merupakan politisi, Diplomat dan tokoh Eksil Indonesia. Kisah cerita dimulai, Ayah Ibrahim Isa bekerja sebagai guru di sekolah dasar anak-anak Belanda, Europeesch Lagere School (ELS). Ibrahim Isa juga pernah mengenyam pendidikan di ELS, namun satu hari saja, dikarenakan dirinya waktu kecil tak fasih berbahasa Belanda, ia lebih sering menggunakan bahasa Melayu dengan teman sepermainannya.

Kemudian Ibrahim Isa waktu usia remaja, pernah bergabung dengan Badan Keamanan Rakyat (BKR). Pada usia remajanya dia tertarik dan melek terhadap politik. Buku politik pertama yang dibacanya adalah karya dari Tan Malaka yang berjudul ‘Dari Penjara ke Penjara’.

Awal karier politik Ibrahim Isa bermula ketika dirinya bekerja sebagai guru di sekolah perguruan KRIS. Presiden Gusdur pernah menjadi murid beliau.

Pergaulan Ibrahim Isa semakin luas. Penampilan pertamanya pada acara kegiatan internasional ketika ia ditugaskan oleh Panitia Persiapan Kongres Pemuda Sedunia untuk mewakili Indonesia dalam sebuah perjumpaan persiapan kongres pemuda di Kopenhagen, Denmark pada 1952.

Kisah Perjalanannya Menjadi Wakil Indonesia pada Koferensi di Kuba

Datuk Ibrahim Isa pernah mewakili Indonesia di Kairo, Mesir, untuk Gerakan Asia-Afrika. Ia juga pernah menjadi pimpinan delegasi Indonesia pada koferensi internasional untuk rakyat bangsa-bangsa Amerika Latin di Havana, Kuba, pada masa peralihan Orde Lama ke Orde Baru pada tahun 1965-1966.

Menurut beberapa sumber yang dikutip penulis, Datuk Ibrahim Isa ini pada zaman peralihan Orde Lama ke Orde Baru tidak bisa pulang ke tanah air karena kewarganegaraannya dicabut oleh pemerintah Indonesia.

Dicap sebagai penghianat, karena dianggap bagian dari kelompok ‘Soekarnois’ oleh pemerintah Orde Baru. Akhir hidupnya berubah menjadi seorang pelarian politik. Kemudian Ibrahim Isa pindah ke Tiongkok dan berkumpul dengan para Eksil yang berasal dari Indonesia. Pada tahun 1986, Ibrahim Isa dan keluarganya pindah ke Belanda dan mendapatkan kewarganegaraan Belanda.

Singkat cerita, ia wafat pada 16 Maret 2016 di Belanda, pada usia 85 tahun.

Sumber : Historia

(Ibnu Afdaldi)

Pasang-Iklan-Disini-Batuah-Top-dan-Bottom-Banner-1

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *